Tkdir kdg2 m'prtemukn ssuatu yg x diundang,m'duga dlm brmcm ragam,m'bri apa yg x d rncang, m'buatkn kte mngalirkn air mata ksedihan,dn tkdir jg m'buatkn kte rse khilangn, nmun tkdir m'bri kte erti prkenaln,mnyulam erti ksih syg,mngenali erti sbuah prshbtn,mrasai erti kgmbiraan,mngenali sbuah ktabahn dan m'bri erti sbuah keakrabn,mmbri pluang mnilai siapa sahabat,kwn dn siapa skadar kenalan dlm mngisi ruang dlm episod khidupn.. ~salam ukhuwah~ (^_^)
Saturday, March 3, 2012
harapan baru..
Pada bisikan angin harapan
Aku lagukan angan dan kekuatan
Agar capai pada puncak kejayaan
Untukku terus perjalanan kehadapan
tidak akan ku menoleh ketinggalan
Susur tangis kekalahan dan kegagalan
Akan ku kumpul segala kenangan
untuk mencari seraut harapan
Agar terang sinaran
Untuk ku suluh perjalanan
hanya doa yang tulus garapkan
Agar kejayaan perolehi berkat dari tuhan
kugenggam agar terus menjadi kejayaan
Inilah dia tapak yag harus kuturutkan
semoga mendapat kebenaran
Aku yang masih keseorangan
terus memanjat harapan
dan yang pasti ini adalah permulaan...
Tuesday, December 6, 2011
~CIRI-CIRI WANITA SOLEHAH~
Imam Ath-Thabrany mengisahkan dalam sebuah hadist, dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, dia berkata, “Saya berkata, ‘Wahai Rasulullah, jelaskanlah kepadaku firman Allah tentang bidadari-bidadari yang bermata jeli’.”
Beliau menjawab, “Bidadari yang kulitnya putih, matanya jeli dan lebar, rambutnya berkilai seperti sayap burung nasar.”
Saya berkata lagi, “Jelaskan kepadaku tentang firman Allah, ‘Laksana mutiara yang tersimpan baik’.” (Al-waqi’ah : 23)
Beliau menjawab, “Kebeningannya seperti kebeningan mutiara di kedalaman lautan, tidak pernah tersentuh tangan manusia.” Saya berkata lagi, “Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku firman Allah, ‘Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik’.” (Ar-Rahman : 70)
Beliau menjawab, “Akhlaknya baik dan wajahnya cantik jelita”
Saya berkata lagi, Jelaskan kepadaku firman Allah, ‘Seakan-akan mereka adalah telur (burung onta) yang tersimpan dengan baik’.” (Ash-Shaffat : 49)
Beliau menjawab, “Kelembutannya seperti kelembutan kulit yang ada di bagian dalam telur dan terlindung kulit telur bagian luar, atau yang biasa disebut putih telur.”
Saya berkata lagi, “Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku firman Allah, ‘Penuh cinta lagi sebaya umurnya’.” (Al-Waqi’ah : 37)
Beliau menjawab, “Mereka adalah wanita-wanita yang meninggal di dunia pada usia lanjut, dalam keadaan rabun dan beruban. Itulah yang dijadikan Allah tatkala mereka sudah tahu, lalu Dia menjadikan mereka sebagai wanita-wanita gadis, penuh cinta, bergairah, mengasihi dan umurnya sebaya.”
Saya bertanya, “Wahai Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli?”
Beliau menjawab, “Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari yang bermata jeli, seperti kelebihan apa yang tampak daripada apa yang tidak tampak.”
Saya bertanya, “Karena apa wanita dunia lebih utama daripada mereka?”
Beliau menjawab, “Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuning-kuningan, sanggulnya mutiara dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata, ‘Kami hidup abadi dan tidak mati, kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali, kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali, kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya.’.”
Saya berkata, “Wahai Rasulullah, salah seorang wanita di antara kami pernah menikah dengan dua, tiga, atau empat laki-laki lalu meninggal dunia. Dia masuk surga dan mereka pun masuk surga pula. Siapakah di antara laki-laki itu yang akan menjadi suaminya di surga?”
Beliau menjawab, “Wahai Ummu Salamah, wanita itu disuruh memilih, lalu dia pun memilih siapa di antara mereka yang akhlaknya paling bagus, lalu dia berkata, ‘Wahai Rabb-ku, sesungguhnya lelaki inilah yang paling baik akhlaknya tatkala hidup bersamaku di dunia. Maka nikahkanlah aku dengannya’. Wahai Ummu Salamah, akhlak yang baik itu akan pergi membawa dua kebaikan, dunia dan akhirat.”
Sungguh indah perkataan Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam yang menggambarkan tentang bidadari bermata jeli. Namun betapa lebih indah lagi dikala beliau mengatakan bahwa wanita dunia yang taat kepada Allah lebih utama dibandingkan seorang bidadari. Ya, bidadari saudaraku.
Sungguh betapa mulianya seorang muslimah yang kaffah diin islamnya. Mereka yang senantiasa menjaga ibadah dan akhlaknya, senantiasa menjaga keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah. Sungguh, betapa indah gambaran Allah kepada wanita shalehah, yang menjaga kehormatan diri dan suaminya. Yang tatkala cobaan dan ujian menimpa, hanya kesabaran dan keikhlasan yang ia tunjukkan. Di saat gemerlap dunia kian dahsyat menerpa, ia tetap teguh mempertahankan keimanannya.
Sebaik-baik perhiasan ialah wanita salehah. Dan wanita salehah adalah mereka yang menerapkan islam secara menyeluruh di dalam dirinya, sehingga kelak ia menjadi penyejuk mata bagi orang-orang di sekitarnya. Senantiasa merasakan kebaikan di manapun ia berada. Bahkan seorang “Aidh Al-Qarni menggambarkan wanita sebagai batu-batu indah seperti zamrud, berlian, intan, permata, dan sebagainya di dalam bukunya yang berjudul “Menjadi wanita paling bahagia”.
Subhanallah. Tak ada kemuliaan lain ketika Allah menyebutkan di dalam al-quran surat an-nisa ayat 34, bahwa wanita salehah adalah yang tunduk kepada Allah dan menaati suaminya, yang sangat menjaga di saat ia tak hadir sebagaimana yang diajarkan oleh Allah.
Dan bidadari pun cemburu kepada mereka karena keimanan dan kemuliaannya. Bagaimana caranya agar menjadi wanita salehah? Tentu saja dengan melakukan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi segala laranganNya. Senantiasa meningkatkan kualitas diri dan menularkannya kepada orang lain. Wanita dunia yang salehah kelak akan menjadi bidadari-bidadari surga yang begitu indah.
Duhai saudariku muslimah, maukah engkau menjadi wanita yang lebih utama dibanding bidadari? Allah meletakkan cahaya di atas wajahmu dan memuliakanmu di surga menjadi bidadari-bidadari surga. Maka, berlajarlah dan tingkatkanlah kualitas dirimu, agar Allah ridha kepadamu..
Beliau menjawab, “Bidadari yang kulitnya putih, matanya jeli dan lebar, rambutnya berkilai seperti sayap burung nasar.”
Saya berkata lagi, “Jelaskan kepadaku tentang firman Allah, ‘Laksana mutiara yang tersimpan baik’.” (Al-waqi’ah : 23)
Beliau menjawab, “Kebeningannya seperti kebeningan mutiara di kedalaman lautan, tidak pernah tersentuh tangan manusia.” Saya berkata lagi, “Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku firman Allah, ‘Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik’.” (Ar-Rahman : 70)
Beliau menjawab, “Akhlaknya baik dan wajahnya cantik jelita”
Saya berkata lagi, Jelaskan kepadaku firman Allah, ‘Seakan-akan mereka adalah telur (burung onta) yang tersimpan dengan baik’.” (Ash-Shaffat : 49)
Beliau menjawab, “Kelembutannya seperti kelembutan kulit yang ada di bagian dalam telur dan terlindung kulit telur bagian luar, atau yang biasa disebut putih telur.”
Saya berkata lagi, “Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku firman Allah, ‘Penuh cinta lagi sebaya umurnya’.” (Al-Waqi’ah : 37)
Beliau menjawab, “Mereka adalah wanita-wanita yang meninggal di dunia pada usia lanjut, dalam keadaan rabun dan beruban. Itulah yang dijadikan Allah tatkala mereka sudah tahu, lalu Dia menjadikan mereka sebagai wanita-wanita gadis, penuh cinta, bergairah, mengasihi dan umurnya sebaya.”
Saya bertanya, “Wahai Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli?”
Beliau menjawab, “Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari yang bermata jeli, seperti kelebihan apa yang tampak daripada apa yang tidak tampak.”
Saya bertanya, “Karena apa wanita dunia lebih utama daripada mereka?”
Beliau menjawab, “Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuning-kuningan, sanggulnya mutiara dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata, ‘Kami hidup abadi dan tidak mati, kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali, kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali, kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya.’.”
Saya berkata, “Wahai Rasulullah, salah seorang wanita di antara kami pernah menikah dengan dua, tiga, atau empat laki-laki lalu meninggal dunia. Dia masuk surga dan mereka pun masuk surga pula. Siapakah di antara laki-laki itu yang akan menjadi suaminya di surga?”
Beliau menjawab, “Wahai Ummu Salamah, wanita itu disuruh memilih, lalu dia pun memilih siapa di antara mereka yang akhlaknya paling bagus, lalu dia berkata, ‘Wahai Rabb-ku, sesungguhnya lelaki inilah yang paling baik akhlaknya tatkala hidup bersamaku di dunia. Maka nikahkanlah aku dengannya’. Wahai Ummu Salamah, akhlak yang baik itu akan pergi membawa dua kebaikan, dunia dan akhirat.”
Sungguh indah perkataan Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam yang menggambarkan tentang bidadari bermata jeli. Namun betapa lebih indah lagi dikala beliau mengatakan bahwa wanita dunia yang taat kepada Allah lebih utama dibandingkan seorang bidadari. Ya, bidadari saudaraku.
Sungguh betapa mulianya seorang muslimah yang kaffah diin islamnya. Mereka yang senantiasa menjaga ibadah dan akhlaknya, senantiasa menjaga keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah. Sungguh, betapa indah gambaran Allah kepada wanita shalehah, yang menjaga kehormatan diri dan suaminya. Yang tatkala cobaan dan ujian menimpa, hanya kesabaran dan keikhlasan yang ia tunjukkan. Di saat gemerlap dunia kian dahsyat menerpa, ia tetap teguh mempertahankan keimanannya.
Sebaik-baik perhiasan ialah wanita salehah. Dan wanita salehah adalah mereka yang menerapkan islam secara menyeluruh di dalam dirinya, sehingga kelak ia menjadi penyejuk mata bagi orang-orang di sekitarnya. Senantiasa merasakan kebaikan di manapun ia berada. Bahkan seorang “Aidh Al-Qarni menggambarkan wanita sebagai batu-batu indah seperti zamrud, berlian, intan, permata, dan sebagainya di dalam bukunya yang berjudul “Menjadi wanita paling bahagia”.
Subhanallah. Tak ada kemuliaan lain ketika Allah menyebutkan di dalam al-quran surat an-nisa ayat 34, bahwa wanita salehah adalah yang tunduk kepada Allah dan menaati suaminya, yang sangat menjaga di saat ia tak hadir sebagaimana yang diajarkan oleh Allah.
Dan bidadari pun cemburu kepada mereka karena keimanan dan kemuliaannya. Bagaimana caranya agar menjadi wanita salehah? Tentu saja dengan melakukan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi segala laranganNya. Senantiasa meningkatkan kualitas diri dan menularkannya kepada orang lain. Wanita dunia yang salehah kelak akan menjadi bidadari-bidadari surga yang begitu indah.
Duhai saudariku muslimah, maukah engkau menjadi wanita yang lebih utama dibanding bidadari? Allah meletakkan cahaya di atas wajahmu dan memuliakanmu di surga menjadi bidadari-bidadari surga. Maka, berlajarlah dan tingkatkanlah kualitas dirimu, agar Allah ridha kepadamu..
Monday, November 28, 2011
aku dah update blog
setelah sekian lame ak x bkak blog ak, ni bru ak bkak n update, xde pape pon nk tulis.. skg tgh nk tgu final.. stady pon blom wat gape2 lagi.. isk3.. tu je kot.. k,bye..
Saturday, June 11, 2011
Wednesday, April 20, 2011
~::*SEBELUM ENGKAU HALAL BAGIKU*::~
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh
Duhai kamu yang tercipta dari tulang rusukku....
Di belahan Bumi manapun kamu berada...Bagiku kau bunga, tak mampu aku samakanmu dengan bunga terindah sekalipun...Bagiku manusia adalah makhluk yang terindah, tersempurna, dan tertinggi.....
Bagiku dirimu salah satu dari semua itu, karenanya kau tak membutuhkan persamaan.
Jangan pernah biarkan aku menatapmu penuh, karena akan membuatku mengingatmu......Berarti memenuhi kepalaku dengan inginkanmu.....
Berimbas pada tersusunnya gambarmu dalam tiap dinding khayalku....Membuatku inginkanmu sepenuh hati, seluruh jiwa, sesemangat mentari...
Kasihanilah dirimu jika harus hadir dalam khayalku yang masih penuh Lumpur.Karena sesungguhnya dirimu terlalu suci...
Berdua menghabiskan waktu denganmu bagaikan mimpi tak berujung....Ada ingin tapi tak ada henti....Menyentuhmu merupakan ingin diri, berkelebat selalu, meski ujung penutupmu pun tak berani kusentuh...Jangan pernah kalah dengan mimpi dan inginku karena sucimu kau pertaruhkan.
Mungkin kau tak peduli..Tapi kau hanya menjadi wanita biasa di hadapanku bila kau kalah....Dan tak lebih dari wanita biasa...Jangan pernah kau tatapku penuh...Bahkan tak perlu kau lirikkan matamu untuk melihatku.Bukan karena aku terlalu indah, tapi karena aku seorang yang masih kotor...
Aku biasa memakai topeng keindahan pada wajah burukku...., mengenakan pakaian sutra emas....Meniru laku para ustadz..., meski hatiku lebih kotor dari lumpur....Kau memang suci, tapi masih sangat mungkin kau termanipulasi....
Karena toh kau hanya manusia - hanya wanita -.Beri sepenuh diri pada sang lelaki suci yang dengan sepenuh hati membawamu ke hadapan Tuhanmu....Untuknya dirimu ada, itu kata otakku, terukir dalam kitab suci..., tak perlu dipikir lagi....
Tunggu sang lelaki itu menjemputmu..., dalam rangkaian khitbah dan akad yang indah....Atau kejar sang lelaki suci itu, karena itu adalah hakmu, seperti dicontohkan ibunda Khadijah...Jangan ada ragu, jangan ada malu, semua terukir dalam kitab suci.
Bariskan harapanmu pada istikharah sepenuh hati ikhlas...Relakan Allah pilihkan lelaki suci untukmu...., mungkin sekarang atau nanti, bahkan mungkin tak ada sampai kau mati....
Mungkin itu berarti dirimu terlalu suci untuk semua lelaki di dunia fana saat ini. Mungkin lelaki suci itu menanti di istana kekalmu, yang kau bangun dengan segala kekhusyu’an tangis do’amu....Pilihan Allah tak selalu seindah inginmu.., tapi itu pilihan-Nya.
Tak ada yang lebih baik dari pilihan Allah.Mungkin kebaikan itu bukan pada lelaki yang terpilih itu, melainkan pada jalan yang kau pilih,seperti kisah seorang wanita suci di masa lalu yang meminta ke-Islam-an sebagai mahar pernikahannya.
Atau mungkin kebaikan itu terletak pada keikhlasanmu menerima keputusan Sang Kekasih Tertinggi.Kekasih tempat kita memberi semua cinta dan menerima cinta dalam setiap denyut nadi kita.
semoga bermanfa'at
Salah hilaf andai ada kata yg kurang berkenan mohon ma'afkan
Ana andhika Al-Banjari Insaniah fakir hamba Allah yg tiada daya
dan Upaya,yg benar itu datangnya daripada Allah SWT
dan yg salah itu datangnya daripada kelemahan diri ana pula.
Salam Ukhuwah fillah.
Dia Jodohku( GENRE CERPEN)
Nurul memandang tepat wajah insan di hadapannya itu.. Dia cuba mencari sebuah jawapan. Debaran di hati tidak hilang sedikitpun walaupun telah hampir semua pertanyaan dan persoalan telah dilontarkan. Ahh, mengapa mesti mengunci bibirmu. Keluarkan suaramu. Jawab pertanyaanku. Nurul memprotes di dalam hati.
Insan di hadapannya itu hanya tersenyum. Dia mengangkat wajahnya. Nurul cepat-cepat berpaling ke arah lain. Bimbang matanya bertaut dengan mata si jejaka.
“Mungkin Nurul jodoh saya,” jawabnya ringkas.
“Itu sahaja jawapan saudara?” soal Nurul kerana tidak berpuas hati dengan jawapan seringkas itu.
“Ya.”
Nurul memandang temannya Aina yang sejak tadi membatukan diri. Lagaknya seperti ingin meminta pertolongan. Manalah tahu Aina ada apa-apa soalan yang boleh membuka mulut jejaka ini. Namun, Aina hanya tersenyum. Dia juga kaku berhadapan dengan keadaan ini. Nurul yang dikenalinya seperti berubah serta-merta dalam pertemuan ini. Tiada lagi senyuman manis, tiada lagi kata-kata yang penuh berhikmah dan yang paling terkesan, kelembutan yang menjadi darah-dagingnya juga seperti telah terbang di tiup angin.
“Pandai sungguh dia berlakon,”getus hati Aina.
Bibirnya mengukir senyum apabila Nurul mengajaknya pulang. Masa yang ditunggu telah tiba. Nurul telah berjanji akan membelanjanya makan selepas pertemuan itu selesai. Bukan mengambil kesempatan, cuma poketnya hampir kosong. Almaklumlah sekarang sudah berada di penghujung semester.
Semasa dalam perjalanan ke cafe, Aina mengambil kesempatan bertanya Nurul perihal perubahan tingkah-lakunya sebentar tadi.
“Boleh Aina Tanya sikit?”
“Emm, tanyalah...”
“Kenapa Nurul garang sangat dengan Izzat tu? Kesian dia,”
“Garang ke? Nurul rasa cam biasa je tadi,” Nurul menjawab sambil bibirnya mengukir senyuman.
Aina cuba membaca isi hati sahabat baiknya itu. Senyuman Nurul bagai tersirat 1001 macam maksud. Aina hanya mendiamkan diri, mungkin Nurul belum bersedia menceritakan isi hatinya.
Deringan telefon yang mendendangkan lagu “Atas Nama Cinta” nyanyian kumpulan UNIC sedikit mengganggu tumpuan Nurul yang sedang bertungkus-lumus menyiapkan assignment yang perlu dihantar dua minggu lagi. Kerutan di dahinya hilang dan digantikan dengan senyuman apabila melihat nama si pemanggil. Insan yang sentiasa dirinduinya siang dan malam.
“ Assalamualaikum ibu,” sapa Nurul lembut.
“Waalaikumusalam. Nurul tengah buat apa tu? Sibuk ke?,” soal ibunya.
“Tak lah sibuk sangat, tengah siapakan assignment. Dua minggu lagi kena hantar. Ibu sihat? Abah macam mana?”
“Alhamdulillah, kami sihat. Emm, sebenarnya ibu dan abah ada hal penting nak berbincang dengan Nurul. Nurul boleh balik kampung hujung minggu ni?”
“Hal apa yang penting sangat tu sampai tak dapat bagitahu melalui telefon,” seloroh Nurul. “Adalah.. ini hal masa depan Nurul,”
Setelah memutuskan talian telefon, Nurul mula termanggu. Dia sudah berasa tidak sedap hati. Hal apakah yang ingin diberitahu ibu? Masa depan? Hal baik atau sebaliknya? Screen laptop dihadapannya dipandang tanpa berkelip. Fikirannya mula melayang entah ke mana. Jantungnya mula berdegup kencang menyebabkan aliran darah dalam tubuhnya bergerak laju merentasi segala otot dan bahagian tubuh yang lain. Jarinya lantas memicit-micit kepala yang tidak sakit. Perbualan dengan ibu sebentar tadi telah menyebabkan dia berasa tidak keruan. Oh, ibuku!
**********
Angin petang bertiup sepoi-sepoi bahasa. Kelihatan sekumpulan kanak-kanak sedang riang bermain kejar-kejar di halaman rumah. Padi yang mulai menguning di petak-petak sawah dan burung-burung yang bebas berterbangan mengindahkan lagi pemandangan petang itu. Segala beban pelajarannya terasa hilang semenjak dia sampai ke rumah beberapa jam yang lalu. Nurul menghayun langkah ke sebatang pohon besar dihadapan rumah. Di bawah pohon yang rendang itu terdapat sebuah buai dan pangkin. Di situlah dia dan ibunya selalu berbual-bual.
Suasana damai petang itu tidaklah sedamai hatinya. Ibunya masih belum menyampaikan hal tersebut. Ingin sahaja dia meminta ibu menceritakan hal itu setibanyan dia di rumah tadi. Namun, aroma asam pedas kegemarannya membantutkan pertanyaan malah menaikkan selera makannya pula. Nurul tersenyum sendiri.
“Hai anak dara, kenapa senyum sorang-sorang ni?”
Nurul berpaling ke arah pemilik suara itu. Ibu dan abahnya menghadiahkan senyuman buat satu-satunya anak gadis yang mereka miliki.
“Ingat kat siapa la tu,” abah mula berseloroh.
“Mana ada ingat kat siapa-siapa. Tengah memerhati keindahan alam. Anak ibu dan abah ni kan pencinta alam orangnya,”jawab Nurul manja.
Nurul akui, walaupun usianya sudah menjengah angka 22 dan bakal menamatkan pengajian tidak lama lagi, namun sifat keanak-anakkan dalam dirinya masih menebal. Mungkin kerana dia satu-satunya puteri yang dimiliki oleh pasangan Haji Ahmad dan Hajah Zubaidah di samping dua orang putera yang sudah bekerjaya dan seorang putera yang masih di zaman remaja.
“Hal apa yang ibu nak beritahu hari tu?”, soal Nurul tanpa berlengah.
Haji Ahmad dan Hajah Zubaidah berpandangan. Raut wajah mereka sedikit berubah. Bimbang hal yang bakal disampaikan akan mengganggu tumpuan Nurul belajar. Walaupun sifatnya seperti keanak-anakkan, tetapi fikiran Nurul sematang usianya. Haji Ahmad yakin pelajaran anakknya tidak akan terganggu, cuma si ibu yang masih berat hati menceritakan hal tersebut.
“Ada orang datang bertanya,” abah mula membuka cerita.
“Datang bertanya? Tanya apa?” serius Nurul tidak faham.
“Macam ni..” ibu mula menyusun kata.
“Ada orang datang merisik Nurul.”
“Siapa?”
“Orang Selangor. Keluarga Tengku Mahfuz.”
“Tengku Mahfuz? Siapa tu?” soal Nurul ingin kepastian.
“Kawan lama abah kamu. Sama-sama belajar di Madrasah At-Ti Hadiah dulu,” terang ibu.
Nurul hanya mendiamkan diri. Bila pula abah aku ada kawan daripada golongan Tengku-tengku ni. Aish..
“Mereka datang merisik untuk anak mereka, kalau tak silap, Izzat namanya,” abah mula bersuara.
Nurul memandang wajah tenang abah sambil tangannya menggapai sampul surat yang abah hulurkan.
“Itu gambar orangnya. Nurul fikirlah masak-masak sebelum memberi jawapan. Apa sekalipun jawapan Nurul, abah dan ibu akan sokong,” tambah abah.
“Abah dan ibu dah lihat orangnya? Pandangan abah dan ibu bagaimana?” Sekali lagi ibu dan abah berpandangan. Tetapi kali ini senyuman mereka meleret-leret dan tidak lekang dari bibir. Nurul bertambah binggung.
Malam itu Nurul sangat susah untuk melelapkan mata. Apa yang dibongkarkan oleh abah dan ibu petang tadi benar-benar menghantui dirinya.
Sebenarnya kami dah lama kenal Izzat tu. Abah mula-mula kenal dia masa dia ikut Tengku Mahfuz ke majlis perkahwinan sepupu kamu, Mazuin, tahun lepas. Masa tu kamu sibuk bantu Mak Long sampai tak sempat nak kenalkan dengan Izzat. Kali kedua abah jumpa dia di madrasah. Dia menggantikan papanya semasa reunion kami. Semenjak waktu tu, dia selalu juga telefon abah bertanya khabar. Dia pun pernah datang ke rumah. Cuma kamu je yang tak tahu.
**********
Nurul mula memanggil-manggil memorinya. Manalah tahu dia dapat mengingati situasi yang abah ceritakan petang tadi. Daripada raut wajah abah, Nurul dapat merasakan bahawa abah sangat menyenangi jejaka yang bernama Izzat itu. Tidak kurang juga dengan ibu. Kedua-duanya kelihatan ceria bercerita tentang Izzat. Izzat itu, Izzat ini…
Nurul baru teringat sampul surat yang diberi oleh abah siang tadi. Dia membuka sampul surat itu dan mengeluarkannya dengan berhati-hati. Matanya dipejamkan kerana takut melihat wajah orang ingin memetiknya dari taman hati abah dan ibu. Entah hensem ke tidak. Entah-entah gemuk. Alamak…hatinya berbisik nakal.
Matanya dibuka perlahan-lahan. Tiada cacat-cela daripada raut wajahnya. Semuanya kelihatan sempurna. Tiba-tiba.. Macam pernah tengok dia ni, tapi kat mana? Bila? Aiseh. Siapa ni.. muka ni macam pernah wujud dalam memori aku, tapi siapa??? Nurul makin tidak keruan. Insan itu seperti pernah dikenalinya satu masa dahulu. Namun, segala maklumat bagaikan hilang ketika dia amat memerlukannya ketika ini.
Nurul lantas mencapai laptop yang hampir sehari tidak ditatap. Dia yakin gambar Izzat pasti terselit di antara beratus-ratus gambar simpanan peribadi miliknya. Satu demi satu folder gambar dibuka. Satu persatu gambar diteliti supaya tidak ada yang terbabas daripada penglihatannya. Sudah hampir ke semua gambar dilihat, diteliti dan ditelek dengan penuh ketekunan, namun dia masih tidak menjumpai wajah yang dicarinya. Giliran folder terakhir dibuka.
Folder yang menempatkan gambar Nurul dan rakan-rakannya semasa Bengkel Sukarelawan yang dianjurkan pihak universiti beberapa bulan yang lepas. Bebola matanya seperti dapat menangkap sesuatu. Nurul segera mengambil gambar yang diberikan oleh abah dan meletakkannya di screen laptop. Dia cuba membandingkan gambar itu dengan gambar seorang penceramah yang memiliki raut wajah yang hampir sama dengan Izzat.
“Subhanallah...” hanya perkataan keramat itu yang keluar dari bibir Nurul. Debaran hatinya bertambah kencang.
Dr. Irfan, salah seorang penceramah bagi slot kecemasan dan perubatan. Diakah orangnya. Tanpa membuang masa, Nurul terus mendapatkan kepastian daripada sahabat baiknya, Aina.
“ Kalau tak silap, ada dua orang doktor yang datang hari tu. Yang perempuan tu namanya Dr. Khalisah, yang lelaki tu namanya Dr. Irfan. Kenapa?” jawab Aina dan membalikkan satu soalan kepada Nurul.
“Aina tahu tak nama penuh doktor lelaki tu?”
“Dr. Izzat Irfan.. ada gelaran tengku kot di pangkal namanya” jawab Aina yang berada di hujung talian. Dia berasa pelik dengan tingkah-laku Nurul. Sebelum ini Nurul tidak pernah bertanya apa-apa mengenai muslimin, lebih-lebih lagi yang tidak dikenalinya. Tapi berbeza kali ini.
“Oh, ok. Terima kasih ya. Maaf mengganggu malam-malam ni. Assalamualaikum,” “Waalaikumusalam,” balas Aina kecewa. Tidak sempat nak mengorek cerita dan bertanya lebih lanjut, Nurul sudah dahulu mengakhiri perbualan mereka. “Tak apa, balik kolej nanti aku korek cerita hang,” getus hatinya.
**********
Sudah dua hari di rumah dan tiba masanya kembali ke bumi UPM. Semua barang keperluan telah dimasukkan ke dalam beg. Matanya tertacap kepada satu kotak kecil berwarna merah di atas meja solek. Kotak baldu berbentuk hati itu dicapai dan dibuka perlahan-lahan. Cincin emas bertatahkan permata comel berwarna putih memancarkan kilauannya apabila terkena cahaya matahari yang terbias dari tingkap kamarnya.
Hati Nurul berbelah bahagi. ‘Mengapa dia memilih aku sedangkan kami tidak pernah mengenali antara satu sama lain. Layakkah cincin secantik ini disarungkan ke jariku. Dan yang paling menggusarkan, layakkah aku menjadi suri hati seseorang yang baik dan sesempurna dia.’
Segala persoalan yang ingin dilontarkan telah ditulis kemas dalam sebuah warkah. Nurul meminta nasihat abah dan ibunya. Adakah dia melakukan sesuatu yang betul dan tidak tersasar dari jalan yang dibolehkan agama. Kata abah, lakukanlah jika itu mendatangkan kebaikkan. Andai itu salah satu ikhtiar yang digunakan untuk berasa yakin dialah jodohmu, maka teruskan. Tapi awas, jangan sampai terlalu mengikut kata hati . “Jaga hatimu dan bantulah dia menjaga imannya.
Pesanan abah sangat mendalam maksudnya, “Jaga hatimu dan bantulah dia menjaga imannya. Oh, abah!
Nurul melipat warkah tulisan tangannya itu dengan kemas. Tiada bedak mahupun wangi-wangian diletakkan seperti mana yang dilakukan remaja-remaja lain. Warkah itu membawa isi hati Nurul agar si dia mengerti dan mengenali siapa insan yang baru dilamarnya. Juga ingin meminta kepastian adakah benar-benar ikhlas menerima dirinya yang penuh kekurangan dan kelemahan agar suatu hari nanti tidak akan dipersoalkan jika badai menghempas pelayaran rumahtangga mereka. Nau’zubillah...
Bukan meminta, hanya sekadar satu persediaan. Nurul meminta abahnya sendiri menyampaikan warkah itu. Biarlah abah yang menjadi orang tengah antara mereka, itu yang terbaik.
**********
Terlopong Aina mendengar cerita yang baru disampaikan Nurul. Aina tidak menyangka Nurul akan dilamar oleh doktor idamannya itu. Namun, dia sangat bersyukur andai benar jodoh Nurul dengan Dr. Irfan. Daripada satu sudut dia dapat melihat mereka sangat sepadan. Walaupun jarak usia antara mereka selama 6 tahun, namun itu tidak mencacatkan keserasian mereka.
Serasi? Ya, itu yang Aina rasakan. Seingat Aina, selepas program tamat, mereka pernah bertukar-tukar pendapat mengenai dunia perubatan dan perkaitannya dengan isi kandunagn Kitabullah. Walaupun kumpulan mereka terdiri daripada 7 orang, namun, hanya Dr. Irfan dan Nurul yang banyak menjawab dan menyoal. Ahli yang lain lebih gemar mendengar, termasuk dirinya sendiri. Aina tersenyum apabila mengimbau kembali kenangan itu.
“ Aina rasa kamu berdua memang sepadan. Bagai pinang dibelah dua. Bagai cincin dan permata, ” kata Aina sambil mengira-ngira untuk menambah bidalan-bidalan yang lain bagi menunjukkan kesepadanan mereka.
“Aina, jangan main-main ok. Ni masalah besar ni,” balas Nurul.
“Nurul suka dia tak?”
Berkerut dahi Nurul mendengar soalan sabatnya itu. Dia berfikir sejenak.
“Orang-orang tua kata, diam maknanya suka. Betul tak?” Aina cuba bermain kata dengan Nurul. Bukan untuk menambah kerunsingan temannya itu, namun sebelum memberi apa-apa pandangan, lebih baik dia mengertahui isi hati Nurul terlebih dahulu.
“Entahlah. Nurul pun tak pasti,” jawab Nurul lemah.
“Kenapa? Nurul dah ada pilihan hati ke?”
“Bukan macam tu, tapi...”
“Tapi apa? Nurul ada apa-apa masalah ke? Ceritalah, Aina sedia mendengar,” pujuk Aina. Nurul hanya tersenyum hambar. Daripada raut wajahnya tergambar sedikit kegusaran. Bukan soal sudah ada jejaka idaman, Cuma hatinya belum bersedia. Bukan setakat hati, jiwa dan jasadnya juga bagai belum bersedia untuk menggalas tanggungjawab yang berat itu nanti.
“Aina tahu kan siapa dia. Latar belakang keluarga pun dah berbeza sangat dengan Nurul. Itu belum lagi tahap pendidikan. Macam tak sesuai je dengan Nurul,” “Ish, itukan ukuran dunia je. Aina rasa dia bukan daripada golongan yang mementingkan soal darjat dan darah ni. Dia sendiri pun low profile, sentiasa merendah diri. Pengetahuan agama pun boleh tahan. Apa lagi yang kurang?” soal Aina tidak puas hati.
“Memang dia tiada kekurangan dari mata Nurul. Tapi Nurul yang banyak kekurangan. Bab agama tu yang Nurul risau. Masih lemah. Bimbang tidak dapat menjadi suri yang dapat dia banggakan.”
“Nurul, Allah menciptakan menusia berpasangan-pasangan supaya mereka saling melengkapi bukan? Perkahwinan bukan suatu proses mencari yang sempurna, tapi proses untuk menjadi yang sempurna. Ingat tu,”
Nurul hanya mendiamkan diri. ‘Betul juga apa yang Aina cakap, hati kecilnya berkata-kata.
"Ya Allah, ampunkan dosa-dosaku, dosa-dosa kedua ibubapaku, dosa guru-guruku, dan dosa sahabat-sahabatku. Selamatkanlah kami daripada azab kubur dan nerakaMu. Ya, Allah, Kau pimpinlah hatiku ini dalam mencari rahmat dan redhaMu. Bantulah aku dalam membuat keputusan yang bakal merubah masa depanku. Ya Rahman, andai benar dia milikku, namanya yang tercatat di Luh Mahfuz menjadi pasanganku, dirinya yang telah Kau suratkan menjadi pembimbingku, maka Kau bukalah pintu hatiku untuk menerimanya. Tenangkan hatiku andai keputusanku ini benar, dan berikan petunjukmu agar aku tidak tersasar dari jalanMu Ya Robb. Namun, andai bukan dia yang sepatutnya aku dampingi, maka jauhikan aku dari dirinya, kuatkan hatiku untuk menerima ketentuanMu. Kerana aku yakin, Kau Maha Mengetahui apa yang terbaik buat hambaMu yang hina ini. Amiinn."
Usai mengerjakan solat sunat istikharah buat sekelian kalinya, Nurul masih lagi berteleku di atas sejadah. Hatinya tenang mengadu kepada Yang Esa. Tiada kedamaian setanding kedamaian tika berdua-duaan dengan Pencipta.
**********
Walaupun sudah hampir tiga minggu lamaran daripada pihak lelaki datang, namun dia masih belum dapat memberi keputusan. Buat masa ini dia hanya mahu menumpukan perhatian kepada peperiksaan akhir semester yang sudah pun bermula. Syukur kerana keluarga Tengku Mahfuz memahami keadaan dirinya.
Jam di dinding menunjukkan pukul 7.30 pagi. Nurul mengerling teman sebilikknya yang sedang khusyuk mengulangkaji. Tangannya mencapai nota Perundangan Makanan yang kemas tersusun di dalam fail.
Dia mahu membaca semula nota-nota tersebut sebagai persediaan terakhir sebelum menduduki peperiksaan bagi subjek itu pada pukul 11.00 pagi nanti.
Titt..titt.. Deringan telefon bimbit yang diletakkan di atas katil memecah kesunyian bilik kecil yang dihuninya itu. “Siapa pula yang bagi mesej pagi-pagi ni,” Nurul bermonolog sendiri. Dia mengambil telefon tersebut dan membuka mesej pesanan ringkas yang baru diterimanya. Senyuman terukir tatkala melihat nama si pengirim, Azim, adik bongsu yang tersayang.
Salam. Kak Nurul, esok ibu dan abah akan ke UPM. Abah kata ada benda penting nak disampaikan kepada kakak. Macam surat, tapi abah tak bagi Azim baca. Penting benar agaknya sampai tak sempat tunggu kakak balik.
Azim. Nurul berfikir sejenak. Surat? Dia tidak mahu terus berfikir, biar esok yang menjadi penentunya. Mesej Azim dibalas.
Waalaikumusalam. Ok, kakak akan tunggu kedatangan abah dan ibu.
Nurul meneruskan pembacaan. Hanya tinggal dua paper sahaja lagi yang belum di jawab. Jika diikutkan, minggu hadapan dia akan pulang ke kampung untuk bercuti. Mungkin benar kata Azim, surat itu pasti sangat-sangat penting sehinggakan abah tidak sabar untuk memberikan kepadanya. Tiba-tiba dia tersentak. Jangan-jangan itu surat daripada Izzat. Surat jawapan daripada segala persoalan yang dia ajukan dalam warkahnya tempoh hari. Sesak nafasnya dan tanpa sedar dia mengeluarkan satu keluhan berat.
**********
Benar seperti yang dijangka. Kedatangan abah siang tadi membawa warkah daripada Izzat. Nurul berasa sangat serba salah kerana dia masih tidak dapat membuat keputusan. Kesian abah dan ibu. Sanggup datang daripada jauh semata-mata untuk menyampaikan surat ini. Teringat pesan abah, ‘Kalau Nurul betul-betul tak bersedia, jawab sahaja tidak setuju. Kesian pihak sana masih menunggu-nunggu’.. Nurul hanya tersenyum kelat mendengar kata-kata abah. Bukan tidak setuju, 100 kali dia mahu. Namun, masih ada kekangan yang menyebabkan perkataan setuju itu tidak keluar dari bibirnya. Sabarlah abah, anakmu masih perlukan masa untuk berfikir.
Antara pilihan dan penentuan. Antara tadbir dan takdir. Antara kesempurnaan dan pencarian. Semuanya menagih sikap berhati-hati dan kesabaran. Jangan terlalu cepat hingga tersadung dan jangan pula terlalu perlahan hingga terlambat. Pilihlah jalan tengah di antaranya dan iman serta ilmu menjadi panduannya.
Usai mengerjakan solat Isya’ , Nurul terus mencapai sampul surat berwarna biru dari mejanya. Isinya dikeluarkan. Lipatan warkah itu masih elok. Tidak lagi dibuka, apa lagi dibaca. Nurul memberanikan diri untuk menatapnya. Apa pun yang terjadi, keputusan harus dibuat malam ini juga. Ini tekadnya!
Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi maha Penyayang...
Salam kembali buat Saudari Nurul Jannah Alisya Binti Ahmad.
Pertamanya, maaf kerana mengambil masa yang terlalu lama untuk menjawab persoalan saudari. Bukan ingin membiarkan saudari terus tertanya-tanya, cuma berusaha untuk memberi jawapan yang sebaiknya. Sejujurnya, saya tiada jawapan yang tepat untuk setiap pertanyaan daripada saudari kerana saya yakin saudari punya jawapannya sendiri.
Pernah mengasihi atau tidak, pernah bercinta atau tidak, pernah mengenali atau tidak, bukanlah satu syarat untuk menjamin kebahagiaan sesebuah rumahtangga. Bukan kah janji Allah itu pasti. Dia bisa menemukan dan memisahkan sesiapa yang Dia kehendaki. Secara logiknya, memang susah menerima insan yang kita tidak pernah kasihi apalagi yang kita tidak pernah kenali untuk menjadi pasangan kita, tapi saya yakin, setiap apa yang berlaku talah diatur oleh Allah dengan sangat sempurna. Wallahua’lam…
Setiap menusia mengimpikan pasangan yang soleh dan solehah. Tidak terkecuali saudari dan saya sendiri,bukan? Allah telah memberi tips kepada kita dalam memilih pasangan. Lihatlah kepada 4 perkara; agama, kecantikkan, keturunan dan harta. Utamakanlah yang beragama, nescaya akan aman hidupmu. Saya tidak pernah meletakkan syarat-syarat tinggi kepada sesiapa yang bakal menjadi isteri saya kerana saya juga insan biasa yang banyak melakukan dosa dan kesalahan. Pada saya, sudah memadai jika dia dapat menerima saya seadanya.
Firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 216 yang bermaksud:
“Ada sesuatu perkara yang kamu cintai tetapi membawa keburukan kepada kamu. Ada pula sesuatu perkara yang kamu benci tetapi sebaliknya ia membawa kebaikkan kepada kamu. Sedarlah kamu tidak mengetahui, Allahlah yang lebih mengetahui. Justeru, saya akan berusaha menerima sesiapa sahaja yang telah Allah catatkan namanya untuk menjadi pendamping saya. InsyaAllah.
Setiap manusia punya kelebihan dan kekurangan. Ianya dapat diatasi dengan perkahwinan. Perkahwinan itu fitrah, perkahwinan itu sunnah. Mendirikan rumahtangga bermakna telah mendirikan sebahagian agama. Tidak perlu mencari yang terlalu sempurna, tetapi berusahalah menjadikan pasangan kita sempurna.
Tulang rusuk yang hilang pasti tidak akan tertukar dan pasti akan kembali ke tempat asalnya, itulah janji Allah. Saya cuma berharap agar tulang rusuk yang bakal kembali itu dapat membantu melindungi hati saya daripada dimasuki perkara-perkara yang melalaikan,bahkan tulang rusuk itu jugalah yang bakal memberi kekuatan kepada saya untuk tetap memperjuangkan keimanan dan ketaatan kepada Yang Esa.
Mungkin jawapan yang saya berikan tidak seperti yang saudari inginkan. Hanya ini yang mampu saya katakan. Sesungguhnya setiap patah perkataan yang tertulis di kertas ini, telah pun kering dakwatnya di Luh Mahfuz. Tumpukan perhatian kepada peperiksaan yang sedang diduduki. Jangan biarkan hal ini merunsingkan fikiranmu. Segala yang baik datangnya daripada Allah s.w.t dan kekurangan itu datangnya daripada insan lemah ini. Wassalam…
**********
Nurul melipat kembali warkah itu. Patutlah Izzat hanya mendiamkan diri semasa pertemuan mereka yang tidak disengajakan minggu lepas. Rupa-rupanya dia sudah menulisnya terlebih dahulu. Memang benar, Izzat tidak menjawab terus apa yang disoalnya, namun setiap bait-bait kata yang ditulis sudah cukup untuk mengukuhkan alasan untuk keputusan yang bakal dibuat. Nurul tersenyum, dia yakin dengan keputusannya.
“Ya, tulang rusuk tidak akan tertukar!”
Haji Ahmad sangat bersyukur mendengar keputusan yang dibuat oleh Nurul. Walaupun Nurul menetapkan beberapa syarat namun syarat tersebut tidak memudarkan sedikitpun sinar kegembiraan di wajah ibu dan abah.
“Nurul setuju dengan lamaran ini. Tapi, Nurul nak habiskan belajar dulu. Terpulang kepada pihak sana mahu tunggu ataupun tidak,” tegas Nurul. Walaupun luarannya tegas, namun, hatinya hanya Tuhan yang tahu. “Harap-harap dia sanggup tunggu. Kalau tak, makan hati berulam jantunglah aku”, jenaka hati kecilnya.
Abah hanya mengangguk-anggukkan kepala. Ibu hanya tersenyum di sebelah abah. Cincin lamaran telah disarungkan sendiri ke jari manisnya. Cantik. Cocok benar dengan warna kulitnya yang putih gebu. Adiknya Azim juga turut tersenyum sambil mengenyitkan mata bundarnya. Mungkin gembira bagi pihak kakaknya barangkali.
Nurul tersenyum sendiri. Hatinya sudah lega. Syukur Alhamdulillah, semuanya sudah selesai. Majlis pertunangan mereka akan dilangsungkan pertengahan tahun hadapan, betul-betul selepas dia menamatkan pengajian. Sengaja dipilih tarikh yang masih lambat itu kerana tidak mahu kelam kabut. Tambahan pula dia sedang sibuk dengan projek tahun akhirnya. Pandangan mata dialihkan ke sawah padi yang terbentang luas. Indah, nyaman, damai..Begitu juga rasa hatinya.. Kebahagiaan sedang menanti di hadapan, semoga sempat digapai dan akan kekal dalam pelukkannya sehingga akhir hayat, insyaAllah…
-Syed Naquib Al-Attas-
Aku melihat dunia hari ini
Orang Islam seperti digenggam belenggu orang kafir
Akhirat mereka luput
Dunia pun tercicir
Budaya jahil tidak diambil peduli
Melampau-lampau dalam hiburan
Khayalan keterlaluan
Luas.....luas membanjir
Teruk... tak tertaksir orang yang karam
Barus, Singkel, Pasai, Ranir, Cordoba, Baghdad, Andalus
Hilang ....hilang ditelan zaman
Kita lupa semua jawapan persoalan kehidupan
Yang mahir dihafal
Mampukah kita untuk jawab di depan
Mungkar dan Nakir nanti?
Setengah-setengah orang berkata, sejarah ini ibarat pentas bermain wayang
Cerita-cerita lampau dihurai, dipanjang-panjang
Bila tamat diulang ....dan diulang ....ulang kembali
Kalau begitu, takkanlah mustahil
Untuk giliran Islam pula yang mendatang
Tamadun kita yang lama dahulu yang indah gemilang
Hidup semula, kembali segar-bugar terbentang,
Di dunia yang luas.
Orang Islam seperti digenggam belenggu orang kafir
Akhirat mereka luput
Dunia pun tercicir
Budaya jahil tidak diambil peduli
Melampau-lampau dalam hiburan
Khayalan keterlaluan
Luas.....luas membanjir
Teruk... tak tertaksir orang yang karam
Barus, Singkel, Pasai, Ranir, Cordoba, Baghdad, Andalus
Hilang ....hilang ditelan zaman
Kita lupa semua jawapan persoalan kehidupan
Yang mahir dihafal
Mampukah kita untuk jawab di depan
Mungkar dan Nakir nanti?
Setengah-setengah orang berkata, sejarah ini ibarat pentas bermain wayang
Cerita-cerita lampau dihurai, dipanjang-panjang
Bila tamat diulang ....dan diulang ....ulang kembali
Kalau begitu, takkanlah mustahil
Untuk giliran Islam pula yang mendatang
Tamadun kita yang lama dahulu yang indah gemilang
Hidup semula, kembali segar-bugar terbentang,
Di dunia yang luas.
Subscribe to:
Posts (Atom)







